Skip to content

Gempa dan Tsunami

mencari sudut pandang lain

LAMPUNG, BPPT telah memasang bouy tsunami di Selatan Samudera Hindia. Tepatnya di perairan Samudra Hindia Selatan Lampung pada Minggu 7 September 2008 kemarin, demikian dikatakan Wahyu W Pandoe, Peneliti Kelautan BPPT (11/9).

Menurut Wahyu yang saat ini menjabat Kepala Seksi Survei Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT selaku Coordinator of Recuirements, Maintenance and Operations Tsunami Bouy, pemasangan bouy ini merupakan bagian dari pengembangan sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia sekaligus bagian dari the Indian Ocean Tsunami Warning and Mitigation System. Bouy yang dipasang terdiri dari dua unit penting yaitu Ocean Bottom Unit (OBU) yang dipasang di dasar laut dan Tsunami Surface Buoy yang dipasang di permukaan laut.

OBU secara aktif mengirim data melalui underwater acoustic modem ke Tsunami Buoy yang terpasang di permukaan laut yang berperan sebagai penerima data dari OBU kemudian Tsunami Bouy mentransmisikan data tersebut via satelit ke pusat pemantau tsunami Read Down Station (RDS) yang berada di Gedung I BPPT Lantai 20, lanjut Wahyu.

Lebih lanjut Wahyu mengatakan, “Pada saat pemasangan bouy kemarin, ada sedikit kendala yaitu cuaca buruk. Gelombang sampai tiga meter. Pada hari pertama kami mulai memasang bouy pada jam 10 pagi dan selesai jam 12 malam. Kemudian pada hari kedua kami pasang OBU di kedalaman 2.050 meter dimulai dari jam 10 sampai dengan jam empat sore”.

Bouy yang dipasang di dekat sumber gempa dan tsunami bekerja berdasarkan gelombang tsunami atau anomali elevasi muka air laut yang dideteksi oleh sensor yang ditempatkan di OBU. Alat inilah yang berfungsi merekam kedatangan gelombang tsunami. Dari OBU, data dikirim ke buoy, kemudian dari buoy dikirim ke satelit untuk diteruskan ke stasiun penerima di Jakarta yaitu di BPPT dan BMG.
BPPT merencanakan pemasangan 23 bouy sebagai peralatan peringatan dini tsunami tersebut di pada setiap 250 km panjang pantai di Saudera Hindia kawasan Indonesia. Prototipe Tsunami Buoy Indonesia yang pertama adalah Tsunami Buoy Seri 1, yang di tempatkan di Samudra Hindia Selatan Lampung pada posisi pendekatan 6.5LS dan 104BT. Alat telah terpasang sejak awal bulan Mei 2007 mengalami beberapa penyempurnaan dan perbaikan, sehingga pengukuran sempat terhenti beberapa saat di bulan pertengahan Juni sampai dengan pertengahan Juli dan akhir Oktober sampai dengan pertengahan November 2007.

Sejumlah pengukuran di bulan September 2007 menunjukkan alat berjalan normal dengan threshold tsunami sebesar 3cm. Beberapa kejadian gempa, khususnya gempa dan tsunami Bengkulu tanggal 12 September 2007 jam 18.10 WIB sempat terdeteksi oleh sensor Buoy Krakatau. Kejadian gempa susulan berturut-turut terjadi pada tanggal 13 dan 14 September 2007, sensor menunjukkan adanya aktifitas anomally pressure tekanan air pada tanggal tersebut. Kejadian ini sesuai dengan data gempa yang tercatat di BMG.

“Bouy yang kami pasang kemarin merupakan bouy generasi kedua yang mempunyai sejumlah kelebihan dibanding bouy generasi satu. Pertama dapat digunakan untuk laut dalam hingga enam ribu meter. Kedua, akurasi datanya lebih besar dan transmisi datanya lebih banyak. Selain pendeteksi tsunami, buoy ini dapat digunakan untuk memantau cuaca. Dalam kegiatan ini, kami melibatkan sekitar 30 peneliti BPPT”, tambahnya. (humas*)

Tag:, ,

%d blogger menyukai ini: